JAKARTA – Koran online. my. id.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan komitmen bank sentral untuk memperkuat bauran kebijakan demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Langkah preventif ini diambil menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu gejolak ekonomi global.
Respons Terhadap Pelemahan Kurs
Hingga 16 Maret 2026, nilai tukar Rupiah tercatat berada di level Rp16.985 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 1,29% (point to point) dibandingkan akhir Februari 2026. Pelemahan ini sejalan dengan tren koreksi mata uang negara berkembang lainnya akibat sentimen risk-off investor global
.
Tiga Strategi Utama Bank Indonesia:
* Intervensi Pasar Berlapis: BI meningkatkan intensitas kehadiran di pasar melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri, hingga pengawalan di pasar offshore (NDF luar negeri).
* Optimalisasi Instrumen Moneter: Memaksimalkan daya tarik aset keuangan domestik untuk merangsang kembali aliran modal asing (capital inflow) yang sempat keluar akibat ketidakpastian global.
* Penguatan Neraca Pembayaran: Menjaga kinerja fundamental ekonomi agar tetap resilien dalam mendukung stabilitas nilai tukar jangka panjang.
Optimisme di Tengah Tekanan
Meski kondisi global memburuk, Perry Warjiyo meyakini bahwa Rupiah akan kembali stabil. Keyakinan ini didasarkan pada tiga pilar utama:
* Komitmen kuat BI dalam mengawal pasar.
* Imbal hasil (yield) investasi Indonesia yang tetap kompetitif bagi investor asing.
* Prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang dinilai masih sangat baik.
> "Bank Indonesia akan terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya kondisi global," tegas Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG), Selasa (17/03).
>
Analisis Singkat:
Langkah BI ini menunjukkan peran sebagai shock absorber (peredam kejut). Dengan melakukan intervensi di pasar offshore saat pasar domestik libur atau tertekan, BI berupaya memutus rantai spekulasi yang dapat memperparah kejatuhan Rupiah di tengah krisis geopolitik.
